Jerit Hati ART di Tengah Penyebaran Covid-19
Jerit Hati ART di Tengah Penyebaran Covid-19
Jumpabet, Situs Jumpabet, Link Alternatif Jumpabet, Hingga saat ini, bantuan yang diharapkan dapat memperpanjang nafas rumah tangga miskin di Tangerang Selatan ini, tak kunjung diraih. Berprofesi sebagai buruh harian lepas, tanpa kepastian pendapatan pasti merasa sangat terpukul, ditambah lagi dengan adanya aturan pemerintah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
Seperti dialami, Siti Hasanah (53), warga Pakualam, Kecamatan Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan ini, terpaksa masih terus beraktifitas demi memenuhi kebutuhan dirinya sehari-hari.
Dia yang bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga (ART) harian, di perumahan kawasan Alam Sutera itu, mengaku harus tetap bekerja untuk kebutuhan makan dan minumnya.
"Saya kalau engga bekerja makan apa," ucap janda sebatang kara ini, ditemui di rumahnya, kawasan Pakualam, Serpong Utara, Jumat (24/4).
Apalagi, kebijakan PSBB yang diterapkan Pemerintah di Tangerang Raya, juga telah memangkas pendapatan hariannya. "Saya kerja harian, dibayar Rp 40 ribu per hari. Kerjanya bersih-bersih rumah. Pagi datang, siang pulang. Engga menginap," ujarnya.
Sebelum adanya corona saja dia mengaku hidup dalam keterbatasan, terlebih adanya pembatasan sosial yang memaksa setiap orang, bekerja di rumah. Sehingga menimbulkan kekhawatiran orang yang biasa menggunakan jasanya.
"Setelah ada korona ini menjadi sekali-sekali saja panggilan kerja buat saya. Kalau sebelumnya kan setiap hari masuk, jadi ada pemasukan harian," kata wanita tanpa anak ini.
Dia mengaku, saat ini sangat berharap bantuan sosial Pemerintah, yang sudah pernah dijanjikan sebelumnya.
"Kemarin repot-repot ada pendataan, katanya saya bakal dapat bantuan Pemerintah. Kalau masih bisa kerja, bisa dapat duit dari keringat sendiri, Ibu engga mau ngarep-ngarep bantuan. Tapi korona ini benar-benar Ibu engga bisa ngapa-ngapain, engga punya apa-apa juga," jelasnya.
Jumpabet, Situs Jumpabet, Link Alternatif Jumpabet, Hingga saat ini, bantuan yang diharapkan dapat memperpanjang nafas rumah tangga miskin di Tangerang Selatan ini, tak kunjung diraih. Berprofesi sebagai buruh harian lepas, tanpa kepastian pendapatan pasti merasa sangat terpukul, ditambah lagi dengan adanya aturan pemerintah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
Seperti dialami, Siti Hasanah (53), warga Pakualam, Kecamatan Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan ini, terpaksa masih terus beraktifitas demi memenuhi kebutuhan dirinya sehari-hari.
Dia yang bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga (ART) harian, di perumahan kawasan Alam Sutera itu, mengaku harus tetap bekerja untuk kebutuhan makan dan minumnya.
"Saya kalau engga bekerja makan apa," ucap janda sebatang kara ini, ditemui di rumahnya, kawasan Pakualam, Serpong Utara, Jumat (24/4).
Apalagi, kebijakan PSBB yang diterapkan Pemerintah di Tangerang Raya, juga telah memangkas pendapatan hariannya. "Saya kerja harian, dibayar Rp 40 ribu per hari. Kerjanya bersih-bersih rumah. Pagi datang, siang pulang. Engga menginap," ujarnya.
Sebelum adanya corona saja dia mengaku hidup dalam keterbatasan, terlebih adanya pembatasan sosial yang memaksa setiap orang, bekerja di rumah. Sehingga menimbulkan kekhawatiran orang yang biasa menggunakan jasanya.
"Setelah ada korona ini menjadi sekali-sekali saja panggilan kerja buat saya. Kalau sebelumnya kan setiap hari masuk, jadi ada pemasukan harian," kata wanita tanpa anak ini.
Dia mengaku, saat ini sangat berharap bantuan sosial Pemerintah, yang sudah pernah dijanjikan sebelumnya.
"Kemarin repot-repot ada pendataan, katanya saya bakal dapat bantuan Pemerintah. Kalau masih bisa kerja, bisa dapat duit dari keringat sendiri, Ibu engga mau ngarep-ngarep bantuan. Tapi korona ini benar-benar Ibu engga bisa ngapa-ngapain, engga punya apa-apa juga," jelasnya.


Komentar
Posting Komentar